Ekonesia.org, Palu – Yayasan Ekologi Nusantara Lestari (EKONESIA) berharap era normal baru menjadi momentum kesadaran warga dan pemerintah untuk membangun keasadaran ekologis. Hal ini disampaikan oleh pihak EKONESIA, melalui rilis yang diterima oleh media ini.
Di dalam rilis tersebut, pihak EKONESIA menyebutkan jika era normal baru bukan hanya penerapan protokol kesehatan, tapi merawat dan menjaga sektor hulu alam dan manusia, yaitu kondisi ekologi agar tidak rusak.
Pihak EKONESIA juga menyebutkan jika sesungguhnya hari ini kita sudah mengalami darurat ekologis, sehingga pandemi lebih mudah menyebar dan meluas, disebabkan oleh ketidak mampuan sistem pelayanan alam mencegah penyebaran pandemi dan virus mematikan lainnya, akibat dari kerusakan ekologis kita yang sudah terjadi sejak lama.
Menurut Direktur EKONESIA, Azmi Sirajuddin, sepanjang tahun 2020 ini saja, bencana ekologis sudah beberapa kali melanda wilayah Sulteng. Dalam catatan EKONESIA, setidaknya hingga bulan Juni 2020, sudah lima wilayah yang diterjang bencana ekologis seperti banjir bandang dan tanah longsor. Terjadi di Kabupaten Poso, Sigi, Parigi Moutong dan Morowali Utara. Bahkan bencana ekoogis itu terjadi di tengah merebaknya pandemi Covid19.
Indikator itu menunjukan bahwa kita mengalami krisis bahkan darurat ekologis.
Menurutnya, masyarakat Sulawesi Tengah benar-benar mengalami multi beban (multi-impact) akibat krisis ekologis ini. Kita baru saja mengalami bencana alam dua tahun silam, kemudian pandemi melanda kehidupan warga di tengah belum pulihnya kehidupan para penyintas bencana. Setelah itu, di saat kita berjibaku melawan pandemi Covid-19, sebahagian wilayah kota kembali diterjang bencana ekologis seperti banjir bandang dan tanah longsor.
Oleh sebab itu, pihak EKONESIA dalam rilisnya menyebutkan jika penerapan era normal baru sekarang ini tidak cukup hanya dengan penerapan protokol kesehatan seperti pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak. Sebab itu hanya wilayah hilir dari kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.
Tapi, mesti juga memastikan agar wilayah hulu berupa kepastian agar kondisi ekologis bisa dipulihkan kembali. Sehingga bisa mencegah peluang kerentanan dan risiko bencana baru terhadap kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.
Karena itu, Direktur EKONESIA Azmi Sirajuddin, yang juga merupakan Anggota Dewan Nasional WALHI mendesak kepada pemerintah agar penetapan era normal baru berbarengan dengan upaya pemulihan ekologis.
“Kepulihan ekologis akan menjadi penentu bagi kepulihan kesehatan masyarakat”, ujarnya. (YP)


Add a Comment